Minggu, 16 Juni 2013

Refleksi Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 9: School Mathematics

http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_5936.html?showComment=1371395276356#c4731073461376484666

Ebbutt and Straker (1995) mendefinisikan school mathematics atau hakikat matematika sekolah sebagi berikut:
1. Matematika adalah kegiatan penelusuran pola atau hubungan
Guru perlu memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk menemukan pola dan hubungan. Berikan siswa kesempatan untuk menemukan pola yang berbeda-beda sesuai dengan pemikiran dan penyelidikan mereka masing-masing. Kegiatan mencari pola ini dapat memudahkan siswa dalam memahami materi pembelajaran.
2. Matematika adalah kegiatan problem solving
Guru perlu menyediakan lingkungan belajar yang merangsang timbulnya permasalahan matematika. Selain itu, guru perlu memfasilitasi siswa dalam rangka memecahkan permasalahan matematika ini. Kegiatan problem solving ini, siswa akan dapat untuk berpikir lebih kritis dan logis. Siswa didibiarkan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan matematika dengan cara mereka sendiri.
3. Matematika adalah kegiatan investigasi
Kegiatan investigasi ini akan meningkatkan rasa keingintahuan siswa terhadap permasalahan-permasalahan matematika sehingga mereka akan berusaha untuk mencari segala informasi dari berbagai sumber.
4. Matematika adalah komunikasi
Dalam pemebelajaran matematika, siswa dibiarkan untuk mengungkapkan hasil dari olah pikir mereka, sehingga akan ada komunikasi antar siswa dengan siswa dan siswa dengan guru sehingga akan didapat kesimpulan pembelajaran yang tidak hanya berasal dari guru saja.

Refleksi Forum Tanya Jawab 64 : Burung di Pagi Hari, Jengkerik di Sore Hari



Kehidupan itu seperti mata uang, selalu terdapat dua sisi yang berbeda. Seperti halnya dalam dunia pendidikan. Pendidikan di Indonesia masih cenderung bersifat tradisional, sedangkan pendidikan di luar negeri kebanyakan merupakan pendidikan inovatif. Untuk merubah paradigma pendidikan tradisional menjadi pendidikan inovatif itu bukanlah perkara yang mudah, karena pendidikan tradisional itu ibaratnya sudah mendarah daging pada proses pendidikan di Indonesia. Kebanyakan guru sudah merasa nyaman dengan cara mengajarnya. Oleh karena itu dibutuhkan usaha yang keras, kesadaran dari semua pihak serta ditambah dengan memohon kepada Allah SWT untuk membuat perubahan.

Refleksi Kutarunggu Sang Rakata Menyatukan Lima Gunung (Kedua)



Agar kita dapat melakukan interospeksi terhadap diri kita maka kita harus dapat melihat ke dalam diri kita sendiri. Untuk dapat meilhat diri kita sendiri, maka kita harus dapat meningkalkan sifat sombong dan rasa memiliki. Sifat sombong hanya akan menutupi kelemahan-kelemahan kita sehingga kita tidak menyadari bahwa diri kita itu memililiki banyak kelemahan. Menghilangkan rasa sombong itu bermanfaat bagi pergaulan kita karena kita akan memiliki banyak teman. Dengan memiliki banyak teman maka kita akan dapat menyelesaikan permasalahan secara bersama-sama. Ibaratnya sebuah lidi akan mudah patah daripada segenggam lidi.

Refleksi Kutarunggu Sang Rakata Menyatukan Lima Gunung (Pertama)


Kita dapat menilai orang lain karena kita dapat melihat orang lain. Tetapi kita akan kesulitan untuk melihat diri kita sendiri. Terkadang kita merasa lebih baik daripada orang lain padahal itu belum tentu. Rasa seperti ini timbul karena kita belum mampu untuk melihat diri kita sendiri. Bila kita ingin melihat diri kita sendiri maka kita harus berusaha untuk menghilangkan rasa memiliki dan rasa sombong. Selama kedua rasa itu masih ada dalam diri kita maka selama itu pula kita tidak akan dapat melihat diri kita sendiri.

Oleh karena itu, marilah kita banyak-banyak mohon ampun kepada Allah SWT atas kesombongan-kesombongan yang sering kita perbuat.

Refleksi EDUCATIONAL PARADIGM



Pendidikan pada abad ke 20 dengan abad ke 21 itu memiliki perbedaan. Pendidikan pada abad ke 20 cenderung menggunakan metode tradisional dimana guru masih begitu mendominasi pembelajaran. Pembelajaran masih berpusat pada guru dan siswa hanyalah sebagai obyek saja. Sedangkan pembelajaran pada abad ke 21 pembelajarannya sudah mulai menggunakan metode inovatif dimana yang menjadi subyek pembelajaran adalah siswa.pembelajaran juga lebih mementingkan pada prosesnya. Selain itu, pada abad ke 20 masih belajar tentang teknologi, sedangkan abad ke 21 pembelajaran sudah memanfaatkan adanya teknologi.

Refleksi NATURALISM




Naturalisme adalah sebuah pendekatan untuk masalah filosofis yang menafsirkan mereka sebagai penurut melalui metode-metode ilmu empiris atau setidaknya, tanpa khas proyek apriori teori. Jadi naturalism itu hanya berorientasi pada hal-hal yang nyata, dan mengeampingkan hal-hal yang berkaitan dengan supranatural.
Aliran naturalisme adalah suatu aliran yang berkeyakinan bahwa hukum alam mengatur struktur dan perilaku manusia. Penganut aliran ini berkeyakinan bahwa tidak ada sesuatu yang di luar dari alam dunia ini.

Refleksi HERMENEUTICS




Hermeneutika adalah aliran filsafat yang bisa didefiniskan sebagai teori interpretasi dan penafiran sebuah naskah melalui percobaan. Hermeneutika mencakup dua hal yaitu yang pertama adalah seni dan yang kedua adalah teori pemahaman dan interpretasi ekspresi linguistik dan non-linguistik. Hermeneutika umumnya dipakai untuk menafsirkan Alkitab, terutama dalam studi kritik mengenai Alkitab. Jadi, hermeneutika adalah proses menerjemahkan dan diterjemahkan. Menerjemahkan dan diterjemahkan ini berlaku untuk apa saja dan kapan saja.