Jumat, 31 Mei 2013

Refleksi Elegi Menggapai Awal




Awal dapat didefinisikan bermacam-macam dan berbeda-beda, tergantung pada siapa yang mendefinisikannya. Awal dari segala-galanya adalah Allah SWT. Allah SWT memiliki sifat terdahulu artinya Allah ada jauh sebelum makhluk-makhluk-Nya diciptakan.

Refleksi Elegi Menggapai Awal dan Akhir Kedua


Kehidupan kita di dunia ini selalu berhubungan dengan yang namanya awal dan akhir. Tidak akan ada akhir bila tidak ada awal, begitupun sebaliknya. Awal dan akhir merupakan suatu rangkaian yang tidak akan terpisahkan. Awal dan akhir kehidupan semata-mata hanyalah ketentuan Allah SWT. Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu di alam semesta ini. Kehidupan manusia di dunia berawal ketika ia dilahirkan oleh ibunya dan akan berakhir ketika ia mati. Namun, sejatinya sebelum manusia itu lahir, ia telah berada di suatu alam yang disebut alam kandungan. Kelahirannya itu merupakan suatu akhir dari alam kandungan. Begitu pula dengan kematian. Kita menganggap bahwa akhir kehidupan manusia adalah kematian, namun sebenarnya kematian adalah awal dari kehidupan manusia di alam kubur.

Refleksi Elegi Wawancara Orang Tua Berambut Putih


Dulu, saya beranggapan bahwa filsafat itu merupakan suatu ilmu yang sangat sulit untuk dipahami. Apalagi ilmu filsafat ini baru diperoleh di perguruan tinggi dan saya pun belum menempuh mata kuliah tersebut. Namun, dengan adanya elegi-elegi yang Pak Marsigit buat, saya menjadi sedikit bisa memahami tentang filsafat, walaupun tak jarang saya masih sulit untuk memahami elegi-elegi yang Bapak buat.
Elegi-elegi ini memberikan berbagai pelajaran hidup. Dari sini saya menyadari bahwa sesungguhnya filsafat itu dekat sekali dengan kehidupan manusia.

Minggu, 26 Mei 2013

Refleksi Elegi Menggapai Inovasi Pendidikan



Untuk mencapai masa depan yang lebih baik, maka diperlukan inovasi-inovasi dalam pendidikan. Selama ini, pendidikan di Indonesia masih bersifat teacher centered sehingga siswa hanya sebagai obyek yang pasif. Pembelajaran hanyalah guru memberikan ilmunya kepada siswa dan siswa hanya menerimanya, jadilah pemikiran siswa itu sama dengan pemikiran guru maka pemikiran siswa pun menjadi tidak berkembang. Untuk itu, diperlukan inovasi dimana siswa menjadi subyek dalam pembelajaran atau sering disebut dengan student centered. Pembelajaran juga bukan lagi hanya transfer of knowledge melainkan pembelajaran itu adalah ketika siswa menemukan sendiri pengetahuaannya sendiri dengan bantuan dari guru. Dengan pembelajaran seperti ini, siswa akan lebih mudah mengembangkan pikirannya, selain itu, mereka akan cenderung lebih paham bila dibandingkan dengan hanya mendengarkan ceramah guru. 
Mengajar akan lebih baik bila dengan alat peraga. Saat ini kebanyakan guru tidak menggunakan alat peraga, hal ini dikarenakan sekolah tidak memiliki alat peraga ataupun faktor-faktor yang lain. Padahal alat peraga itu dapat guru peroleh dari alam sekitar. Alat peraga itu dapat dibuat sendiri oleh guru. Alat peraga hendaknya yang dapat membantu siswa dalam menemukan pengetahuaannya. Selain alat peraga, yang mendukung dalam inovasi di bidang pendidikan yang paling penting adalah kurikulum. Kurikulum hendaknya yang dapat memenuhi kebutuhan siswa yang beraneka ragam.

Refleksi Elegi Ritual dan Serba-serbi Unas


http://powermathematics.blogspot.com/2011/03/elegi-ritual-dan-serba-serbi-unas.html?showComment=1369630968050#c4909218255720991984

Saat ini, UNAS merupakan momok bagi siswa. UNAS adalah penentu keberhasilan siswa selama belajar di sekolah. Bila UNAS gagal, maka siswa itu akan dianggap gagal dalam belajar di sekolah. Oleh karena itu, berbagai pihak mengupayakan berbagai cara agar siswa dapat lulus UNAS dengan hasil yang maksimal. Mulai dari mengikuti bimbel, agenda ngenol, drill soal, hingga yang bersifat religius seperti malam spiritual, doa bersama, dan lain sebagainya.  Bahkan ada yang menggunakan cara-cara yang tidak masuk akal seperti pergi ke dukun, mencelupkan pensil ke dalam air yang sudah didoakan dan masih banyak lagi. UNAS merupakan suatu ketakutan tersendiri bagi siswa, guru maupun orang tuanya. Padahal tujuan diadakannnya UNAS adalah untuk meningkatkan kualitas atau mutu pendidikan. Namun, yang terjadi di lapangan adalah pihak guru maupun orang tua begitu menekan siswa agar lulus UNAS bagaimanapun caranya dan proses dianggap tidaklah penting karena hasil UNAS ini akan menentuikan harga diri orang tua, guru, maupun sekolah. Proses pembelajaran tidak terlalu diperhatikan, serningkali kita melihat di sekolah-sekolah menjelang UNAS yang dilakukan hanyalah terus-terusan mengerjakan latihan soal.
Ilmu yang dipelajari oleh guru tentang metode mengajar dan sebagainya tidak bisa diterapkan karena di tempatnya mengajar itu masih bersifat UNAS oriented.

Refleksi Elegi Kuda Lumping Bangsaku



Kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia dapat diibaratkan dengan permainan kuda lumping. Keadaan kita saat ini adalah tengah kesurupan. Bagaimana kesurupan itu bisa terjadi tak dapat dijelaskan. Begitu pula dengan keadaan bangsa kita ini, banyak kebijakan-kebijakan yang sulit dijelaskan. Alasan pengambilan kebijakan-kebijakan pun tidak sesuai dengan realita yang ada. Di bidang pendidikan sendiri, contoh kesurupan adalah dengan pengambilan kebijakan tentang UN. UN yang hanya memuat beberapa mata pelajaran saja dapat menentukan kelulusan siswa yang sudah bertahun-tahun belajar di sekolah. Padahal siswa tersebut belajar bukan hanya beberapa mapel yang di UN kan tersebut, tetapi juga pelajaran lain. Lalu mengapa yang di UN kan hanya beberapa mapel itu? Apakah mapel yang lain tidak penting? Kalau tidak penting, mengapa diajarkan?
Agar bangsa kita tidak mengalami kesurupan, maka kita sebagai warga negara hendaknya mampu berpikir kritis sehingga tidak terombang-ambing oleh keadaan.

Sabtu, 25 Mei 2013

Refleksi Elegi Menggapai Dasar Gunung Es

http://powermathematics.blogspot.com/2011/10/elegi-menggapai-dasar-gunung-es.html?showComment=1369537332109#c1222904706741416053

Pengetahuan atau ilmu itu diibaratkan dengan gunung es dan yang ada di puncak itu adalah para ilmuwan. Untuk mencapai puncak tersebut, diperlukan proses atau usaha. Siswa SD itu berada di bagian paling bawah dari gunung es sehingga pembelajaran di SD haruslah sesuai dengan tingkatan cara berpikir mereka.Bagaimana kita bisa mencapai puncak gunung es tersebut? Ya, tentunya dengan usaha menggunakan akal pikiran yang telah dianugrahkan Allah kepada kita.

Refleksi Elegi Pemberontakan Para Normatif

http://powermathematics.blogspot.com/2010/10/elegi-pemberontakan-para-normatif.html?showComment=1369469625113#c2519196384044442097

Ujian Nasional merupakan momok bagi setiap siswa yang berada di kelas paling tinggi di sekolahnya karena ujian nasional yang hanya beberapa hari itu menentukan keberhasilannya selama belajar di sekolah. Ujian Nasional membuat guru-guru juga berusaha dengan gigih untuk membuat siswa-siswanya lulus dengan nilai yang memuaskan. Nilai yang memuaskan akan membuat kebanggaan tersendiri baggi sekolah. Alhasil, dilaksanakanlah drill soal setiap hari dan les dari yang istilahnya ngenol hingga les yang membuat siswa pulang jauh lebih sore dari biasanya.
Ujian Nasional sebenarnya belum mampu untuk mengukur kemampuan masing-masing siswa sebab ujian nasional itu diselenggarakan dengan soal objektif dan hanya dilakukan pada beberapa mata pelajaran saja. Padahal soal yang objektif iu tidak dapat mewakili pemikiran siswa. Terkadang dalam hal ini siswa yang bejo akan dapat meraih nilai yang lebih tinggi daripada siswa yang pandai. Selain itu, dengan soal yang objektif, tidak dapat dilihat mana siswa yang benar-benar bisa dan mana siswa yang hanya asal-asalan menjawab. Ujian nasional yang hanya beberapa mata pelajaran juga berdampak kurang bagus bagi siswa sebab mereka akan cenderung memntingkan pelajaran yang untuk UN ketimbang pelajaran yang tidak di UN kan, padahal pelajaran yang tidak di UN kan juga sama pentingnya dengan pelajaran yang di UN kan. Selain itu, pembelajarna juga berlangsung bukan dengan tujuan siswa paham dengan materi namun hanya sekedar siswa mampu untuk mengerjakan soal UN.
Jadi saya sangat setuju bila UN dihapuskan karena UN hanya membebani siswa dan guru.

Jumat, 24 Mei 2013

Refleksi Elegi Menggapai Bijak

http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-menggapai-bijak.html?showComment=1369451062379#c5561094362308084411

Bijak merupakan sifat yang harus dimiliki oleh semua orang. Bijak bisa berarti macam-macam. Bijak itu relatif, tergantung pada pandangan seseorang. Bijak itu tidak memandang status sosial seseorang karena setiap orang boleh memiki bijak. Untuk menjadi orang bijak, kita haruslah dapat memandang sesuatu dari berbagai macam sisi. Kita harus memiliki pikiran yang jernih dan kritis agar kita terhindar dari pikiran yang dangkal yang mampu menyesatkan. Namun perlu diingat bahwa setingggi-tingginya bijak adalah bijak yang dimiliki oleh Allah yang Maha Bijaksana.

Refleksi Elegi Merasionalkan Takdir

Takdir merupakan ketetapan Allah. Percaya kepada takdir adalah salah satu rukun iman, jadi semua kauum muslimin wajib meyakininya. Takdir ada dua yaitu takdir yang dapat diubah dan takdir yang tidak dapat diubah, seperti jodoh, lahir, dan mati. Manusia hanya bisa merencanakan namun Allah lah yang menentukan. Manusia tidak dapat menolak takdirnya. Manusia haruslah menerima dengan ikhlas takdir yang menimpanya. Memang ada takdir yang dapat diubah, namun bila Allah tidak berkehndak maka tidak akan terjadi.

Refleksi Elegi Pertengkaran Antara Biasa dan Tidak Biasa

Biasa dan tidak biasa merupakan wadah. Wadah ini memiliki isi. Isi dari biasa adalah segala hal yang baik, seperti beramal, berdoa, jujur, disiplin, konsisten, komitmen, beribadah dan sebagainya. sedangkan isi dari tidak biasa adalah segala hal yang tidak baik, seperti berbohong, berdusta, korupsi, mengfitnah, sombong, berbuat dosa, maksiat dan sebagainya. Jadi, kita sebagai manusia hendaknya merasa biasa melakukan hal-hal yang baik dan menjadikannya sebagai suatu kebiasaan. Jika kita sudah merasa biasa melakukan hal-hal yang baik, maka kita akan merasa ada sesuatu yang kurang saat kita tidak atau belum melakukannya. Kita juga harus merasa tidak biasa untuk melakukan hal-hal yang tidak baik. Dengan tidak biasa melakukan hal-hal yang tidak baik, maka ketika kita melakukannya, hati kita akan memberontak.

Refleksi Elegi Meratapi Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK

http://powermathematics.blogspot.com/2010/10/elegi-meratapi-sang-ilmuwan-plagiat-dan_15.html?showComment=1369447797712#c3649954582014919014

Sungguh ironis sekali bila kita menemui ilmuwan plagiat dan guru pemalsu PAK. Profesor dan guru merupakan orang-orang yang dihormati. Apa yang mereka katakan dan lakukan akan mempengaruhi masyarakat karena mereka adalah teladan sehingga apa yang mereka lakukan akan ditiru oleh masyarakat. Gelar profesor bukanlah gelar yang mudah untuk didapatkan, harus melalui proses yang panjang dan sulit, sungguh memprihatinkan bila gelar yang sangat terhormat itu harus dicemari dengan perilaku plagiarisme.
Dalam elegi di atas sudah disebutkan bahwa perbuatan plagiarisme akan menghilangkan keberadaaannya. Jadi dengan perilaku plagiarisme sebenarnya akan membuat seseorang itu kehilangan dirinya dalam karya-karyanya.

Refleksi Elegi Memahami Elegi


Setelah membaca elegi di atas, saya merasa bahwa tokoh mahasiswa yang digambarkan di atas itu adalah saya. Terkadang saya merasa bosan dan berputus asa dalam merefleksi elegi-elegi yang ada. Terlebih lagi saat bahasanya sulit untuk saya pahami dan eleginya terlalu panjang.Namun, elegi-elegi yang Bapak buat mengajarkan saya banyak hal. Saya mulai menyukai untuk melakukan refleksi, sebab dari merefleksi elegi-elegi Bapak, saya dapat belajar tentang banyak hal hanya dari satu blog.
Ternyata baru saya sadari bahwa dalam melakukan refleksi elegi-elegi itu harus ada unsur ikhlasnya. Bila kita tidak ikhlas, maka semuanya akan terasa berat. Bahkan mungkin baru membuka blog bapak saja sudah merasa malas.

Refleksi Menggapai Guru yang Akuntabel (dapat dipercaya) _ Photo oleh CRICED

http://powermathematics.blogspot.com/2012/11/menggapai-guru-yang-akuntabel-dapat.html?showComment=1369405086759#c2998388821114159466

Dari foto di atas, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa untuk menjadi guru yang akuntabel, seorang guru harus mampu dan mau menunjukkan bagaimanakah cara dia mengajar. Guru akan dapat dipercaya oleh orang lain dengan cara memperlihatkan metode pembelajaran yang ia selenggarakan di depan para observer. Karena dari penampilannya itu, para observer akan dapat menilai apakah guru itu akuntabel atau tidak. Kebanyakan guru masih takut untuk menunjukkan bagaimana metodenya dalam mengajar, dan cenderung melakukan akting saat ada pengawas yang datang. Hendaknya perilaku ini segera diubah agar guru-guru di Indonesia menjadi guru yang akuntabel.

Refleksi Hermenetika Pembelejaran Matematika_oleh Marsigit

http://powermathematics.blogspot.com/2012/11/hermenetika-pembelejaran-matematikaoleh.html?showComment=1369404556792#c388215115396930981

Pola pikir diabstraksi menghasilkan lingkaran dan garis lurus. Lingkaran bila ditarik maka menghasilkan spiral. Setiap titik spiral itu ada 3 komponen, yaitu rutin, mendetail atau spesifik dan semakin menbesar. Itulah hakikat kehidupan manusia.
Metode hermetika adalah menerjemahkan dan diterjemahkan dalam segala hal. Dalam pembelajaran matematika, guru menerjemahkan siswa, siswa menerjemahkan matematika. Dalam menerjemahkan dan diterjemahkan, harus ada inisiatif, ikhtiar, daya dan upaya dari guru dan siswa itu sendiri.

Refleksi Masukkan untuk Perbaikan Draft Kurikulum 2013_ Oleh Marsigit




Kurikulum 2013 sebentar lagi akan segera diberlakukan. Kurikulum 2013 merupakan salah satu cara dari pemerintah untuk melakukan inovasi dalam pendidikan dan menekankan pada pendidikan karakter. Pendidikan karakter memang sangat diperlukan bagi anak bangsa karena pada masa sekarang ini di Indonesia sudah terjadi krisis karakter. Namun, pada kurikulum 2013 belum dinyatakan secara jelas karakter apa saja yang akan dibentuk. Karakter ini haruslah mencerminkan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Sebenarnya, pendidikan karakter yang paling utama adalah yang berada di lingkungan keluarga.
Kurikulum 2013 mulai menekankan pada student center sehingga guru tidak lagi sebagai subyek dalam kelas namun bertindak sebagai fasilitator siswa dalam belajar. Guru harus mampu mengembangkan RPP dan membuat LKS. Dengan LKS ini, diharapkan siswa dapat menemukan matematikanya sendiri dan mampu menemukan kesimpulan.